Pengembara Muslim | writer - traveler - coffee drinker

catatan perjalanan dari seseorang yang telah menyerahkan hidupnya untuk Islam

  • Home
  • Buku Saya
  • Works
  • Features
  • Tentang Saya

Kisah Barista

Pay Jarot Sujarwo Thursday, 10 January 2019 No Comments
Puisi Pay Jarot Sujarwo


kisah apa lagi yang hendak kau ceritakan kali ini, barista.
tentang hemingway yang tak pernah berpindah meja di cafe itu,
lalu novelnya meraih pulitzer sebab memanfaatkan suasana perang
karena kelihaiannya meracik diksi?
ini sudah beberapa kali kau ceritakan
meski racikan kopimu tetap menggoda selera

nanti, seperti yang sering kuduga, kisahmu
akan menyerempet-nyerempet ke orang orang turki
yang menjadi cikal bakal populernya kopi
kemudian satu persatu pengunjung kedaimu mendekat.
antusias. pasang kuping. menunggu saat saat mendebarkan
saat single origin selesai kau ramu. siap untuk ditenggak


"aromanya lembut. selembut senyum istri-istri pejuang turki
saat menyambut para suami pulang dari jihad," kata salah seorang pelanggan

senyum perempuan turki itu bukan lembut, tapi teduh! kau protes.
katamu, perang itu panas. panas cuaca dan panas debar dada.
yang dibutuhkan lelaki pejuang adalah keteduhan, bukan kelembutan.


sebagai barista, aku kagum dengan kemampuanmu meramu cerita
pelanggan tergelak, lalu kopi ditenggak. 

"kalian masih ingat soal pecah kongsinya koalisi soviet?"

tiba-tiba kau menyinggung singgung kekalahan gorbachev.
kekalahan yang pahit, sepahit espresso
dari remah biji malabar yang baru saja terhidang.
tentu saja pelanggan kedai menebak-tebak,
kemana arah ceritamu.
mereka menunggu, bahkan ada yang rela order lagi.

"buatkan satu gelas moka," seseorang mengacungkan tangan.

ah, kalau moka berarti kita harus pindah ke yaman.
pelabuhan dagang kuno peng-ekspor kopi terkenal seantero dunia.
al-mukha.

"lalu bagaimana dengan keruntuhan soviet?" pelanggan tak sabar

sebab cara berpikir mereka batil dan kebanyakan vodka, katamu.
harusnya sesekali mereka mencicipi moka
dan juga ikut cara berpikirnya pejuang muslimin.
mustanir.

"bahkan waktu soviet luluh lantak,
muslimin pun tak sedang mustanir.
sudah lebih dulu digerogoti pikirannya
dan akhirnya luluh lantak oleh kemal pasha,"
seperti hari-hari biasanya, kedai kopi berubah jadi arena diskusi

makanya kalian jangan ngopi saja! sana berjuang.
tunjukkan bahwa kita ini benar-benar mustanir.

pengunjung tergelak lagi. kopi ditenggak lagi.

katamu, hemingway mati bunuh diri,
tapi karyanya hidup dan dibangga-banggakan
kaum humanis kepanjangan tangan kapitalis.
soviet pecah belah. pun kapitalis penyebabnya
tapi orang-orang masih membaca leo tolstoy dan aleksei maksimovic peshkov
lha kita? terus menerus ribut membahas nikmatnya kopi arabica
sana berjuang, buktikan kita benar-benar mustanir

barista mengusir pelanggannya. sudah malam. saatnya pulang
lalu besok siap-siap dengan kisah baru

pelanggan pulang. kedai ditutup
tiba-tiba saja barista rindu kemegahan baghdad, andalusia, juga islambol
doanya, semoga para peminum kopi mau ikut bersama jaamah ini
yang mustanir. yang mustanir. yang mustanir

Pontianak, 31 Mei 2017

Pay Jarot Sujarwo

You May Also Like

Posted by Pay Jarot Sujarwo at 21:17:00
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Blogroll

Author

Like Us

Labels

backpacker belanda catatan kembara catatan perjalanan champa delft islam komunis madrid traveling catatan pernajalan melayu traveling vietnam yukngaji

Popular Posts

  • Backpacker Anti Mainstream | Pol Pot Sudah Mati
    Matanya liar. Mengincar para pejalan kaki. Sesekali ia memanjangkan leher. Menoleh ke belakang. Berpaling ke kiri juga ke kanan. Ia menem...
  • Pengakuan: Aku Mengenalnya. Aku Membaca Tulisannya. Namanya Amrin
    Aku terhenyak. Seperti orang terkapar. Mungkin benar terkapar. Tak berdaya. Selain memandang sekitar. Ada banyak lukisan. Ada banyak nyam...
  • Pol Pot is Dead
    His eyes stared wildly, lurking for the walkers. Sometimes he craned his neck, twisted it back, left, right. He saw a man standing in a c...
  • MENJELAJAHI SURGA BAKAU DI NEGERI MITOS
    Tiga lampu senter menyala menembus gelap. Aroma lumpur dari parit kering merambat di hidung. Sebagian orang masih terlelap. Tengah malam ...
  • SMS DARI BUMBUNAN SITORUS
    “Buku dan motivator. Mau tau siapa teman paling setia, tidak cerewet, gampang ditemui, sekaligus guru nan bijak dan sabar? Dialah BUKU! 1...
  • BERBURU LOAK DI EL RASTRO
    Sudah hampir seminggu saya berada di Madrid. Tinggal di apartemen Sergio Roche Castro dan kekasihnya Luciana Musumeci, banyak tempat yang...
  • Kisah Barista
    Puisi Pay Jarot Sujarwo kisah apa lagi yang hendak kau ceritakan kali ini, barista. tentang hemingway yang tak pernah berpindah meja d...
  • Perjumpaan
    Hal yang menggembirakan dalam perjalanan adalah perjumpaan. Kau baca saja kisah heroik Agustinus Wibowo menelusuri negeri-negeri berakhi...
  • DELFT: DARI LELAKI TUA PENABUR REMAH ROTI HINGGA MENATAP TAJAM MATA SANG PANGERAN
    Lelaki itu tak hirau dengan suasana sekeliling. Usianya kutaksir sudah lebih dari 70 tahun. Sebuah sepeda yang juga tak kalah tua berdiri...
  • PAMAN DUDI
    “Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam. Orang sisa-sisa menangis. Air matanya api.” Dari sebuah kamar kecil, lebih kecil dibanding...

THE BLOG THEME

jarotsujarwo@yahoo.com

jarotsujarwo@gmail.com


Tel. 081256918507 (whatsApp)

Pin BlackBerry: 25B5DAFD

Twitter: @jarotsujarwo

Flickr

Popular Posts

  • Islamic Trip, Malaysia, Vietnam, Kamboja, 6 Hari 5 Malam, 6,5 Juta Saja
  • PERTEMUAN SINGKAT DENGAN BUDI P. HATEES
  • SMS DARI BUMBUNAN SITORUS
  • PAMAN DUDI
  • Taqorrub ilallah
Created by - Way2themes - | Distributed By Gooyaabi Templates
  • HOME
  • CONTACT